, ,

Tragedi dikejutkan dengan penemuan mayat usia 67 Tahun di kebun Desa Beo’e

by -413 Views

Tragedi di Kebun Beo’e: Pria 67 Tahun Ditemukan Tewas, Keluarga Tolak Otopsi dengan Alasan Ini

Tahuna- Warga Kelurahan Mahena, Kecamatan Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Tragedi dikejutkan dengan penemuan mayat seorang pria lanjut usia di kebun Desa Beo’e. Korban yang telah teridentifikasi sebagai Hopni Birahim 67 tahun, seorang petani yang hidup menyendiri di Dusun Lelepu, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa oleh keluarganya setelah tidak pulang hingga malam hari.

Tragedi dikejutkan dengan penemuan mayat usia 67 Tahun di kebun Desa Beo’e
Tragedi dikejutkan dengan penemuan mayat usia 67 Tahun di kebun Desa Beo’e

Baca Juga :  Bupati Sangihe & Ketua DPRD Ikuti Rakor KPK, Komitmen Perangi Korupsi di Sulut

Kronologi Penemuan: Dari Kekhawatiran Hingga Tragedi

Kejadian bermula ketika kakak korban, Yesaya Birahim (70), merasa cemas karena Hopni tak kunjung kembali dari kebunnya. Kebiasaan Hopni yang selalu pulang sebelum gelap membuat Yesaya memutuskan untuk menyusul ke lokasi sekitar pukul 19.30 WITA.

“Saya sudah memanggilnya berulang kali, tapi tidak ada jawaban. Saat saya mendekat dengan membawa lampu minyak, saya kaget melihatnya sudah terbaring tak bergerak,” kenang Yesaya dengan suara bergetar.

Dengan panik, Yesaya berlari ke perkampungan untuk meminta bantuan warga. Kabar tersebut akhirnya sampai ke Margiono Tatawi (26), keponakan Hopni, yang bersama lima pemuda lainnya langsung bergegas ke kebun.

“Begitu sampai, kami melihat Om Hopni sudah tidak bernyawa. Kami memutuskan untuk tetap berjaga di lokasi sambil menunggu bantuan petugas,” ujar Margiono.

Respons Aparat dan Pemeriksaan Awal

Tim gabungan dari Polres Kepulauan Sangihe dan Polsek Tahuna tiba di lokasi sekitar pukul 20.50 WITA. Mereka segera melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) guna mengumpulkan bukti. Dokter Astrit Pinontoan yang memeriksa jenazah menyatakan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

Berdasarkan keterangan keluarga, Hopni diketahui memiliki riwayat penyakit darah tinggi hipertensi. Dugaan sementara, korban telah meninggal sekitar delapan jam sebelum ditemukan. Kondisi tersebut menguatkan kemungkinan bahwa kematiannya disebabkan oleh faktor alamiah, seperti komplikasi kesehatan.

Keluarga Tolak Otopsi, Polisi Hormati Keputusan

Meski polisi menawarkan otopsi untuk memastikan penyebab kematian, keluarga Hopni memutuskan untuk menolak. Mereka menerima kepergiannya sebagai takdir dan tidak ingin jenazah almarhum diperiksa lebih lanjut.

“Kami percaya ini adalah musibah. Hopni sudah tua dan memiliki penyakit. Kami tidak ingin prosesi pemakamannya tertunda,” jelas salah seorang anggota keluarga.

Kepolisian pun menghormati keputusan tersebut dan telah membuat Berita Acara Penolakan Autopsi sesuai prosedur hukum. Jenazah Hopni kemudian diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan secara layak.

Duka Warga Lelepu dan Pesan Kesehatan untuk Lansia

Kejadian ini menyisakan duka mendalam bagi warga Dusun Lelepu, yang mengenal Hopni sebagai sosok pekerja keras dan rendah hati. Banyak tetangga yang mengungkapkan belasungkawa dan membantu keluarga selama prosesi pemakaman.

Di sisi lain, kasus ini juga mengingatkan masyarakat akan pentingnya pemantauan kesehatan bagi lansia, terutama yang hidup sendiri. Dokter setempat menyarankan agar keluarga lebih memperhatikan kondisi anggota keluarga yang berusia lanjut, terutama jika memiliki riwayat penyakit kronis.

“Kematian Hopni menjadi pelajaran bagi kita semua. Jangan abaikan gejala kesehatan, apalagi jika ada riwayat penyakit serius,” pesan seorang tenaga medis di Puskesmas Tahuna.

Kini, Hopni Birahim telah berpulang, meninggalkan kenangan sebagai seorang petani sederhana yang dihormati warga. Keluarganya berharap ia tenang di alam sana, jauh dari segala derita duniawi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.