Sabtu, 5 September 2026 Berita Terkini & Terpercaya
Cita RasaCita Rasa
Cita Rasa - Your source for the latest articles and insights
Beranda Berburu Jajanan Pasar Subuh: Rasa Masa Kecil yang ...

Berburu Jajanan Pasar Subuh: Rasa Masa Kecil yang Mulai Langka

Bangun jam empat pagi demi kue putu dan cenil ternyata worth it. Cerita berburu jajanan pasar yang pelan-pelan mulai hilang dari peredaran.

Berburu Jajanan Pasar Subuh: Rasa Masa Kecil yang Mulai Langka

Jam setengah lima pagi, langit masih gelap, dan aku sudah berdiri di depan gerobak putu yang uapnya ngebul kayak lokomotif mini. Ibu penjualnya cuma senyum, nanya mau berapa, terus tangannya gerak cepat masukin tepung ke bumbung bambu. Nggak sampai dua menit, lima putu hangat pindah ke tanganku, dibungkus kertas minyak yang langsung basah kena uap.

Momen kayak gitu makin jarang. Itu alasan kenapa aku rela ngorbanin jam tidur buat keliling pasar.

Pasar Subuh Punya Jam Emas yang Nggak Bisa Ditawar

Ada satu hal yang butuh waktu lama buat aku sadari: jajanan pasar itu bukan soal tempat, tapi soal waktu. Datang jam tujuh, kamu masih dapat kue. Datang jam sembilan, yang tersisa cuma risoles yang udah dingin dan lemper yang plastiknya berembun. Rasa terbaiknya ada di rentang jam empat sampai enam pagi, waktu kue-kue itu baru turun dari kukusan.

Kenapa? Karena mayoritas jajanan pasar dibuat dari tepung beras, kelapa parut, dan gula merah — tiga bahan yang umurnya pendek banget. Kelapa parut segar mulai berubah rasa setelah beberapa jam kena udara. Tepung beras yang dikukus bakal mengeras begitu suhunya turun. Jadi kalau kamu pernah bilang cenil itu alot dan hambar, kemungkinan besar kamu makan cenil yang salah jam, bukan cenil yang jelek.

Aku pernah nyoba eksperimen kecil-kecilan. Beli klepon dari penjual yang sama, hari yang sama, tapi dua waktu berbeda — jam lima pagi dan jam sepuluh siang. Yang pagi, gula merahnya masih meleleh dan meletus di mulut. Yang siang, gulanya udah setengah beku dan kelapanya agak masam. Penjualnya sama, resepnya sama, tapi rasanya kayak dua produk berbeda.

Jajanan yang Pelan-Pelan Hilang dari Peredaran

Beberapa tahun terakhir aku mulai bikin catatan iseng di HP: jajanan apa aja yang dulu gampang ketemu tapi sekarang harus dicari-cari. Daftarnya lumayan bikin sedih.

Kue Rangi dan Masalah Kelapa Parut

Kue rangi itu jajanan Betawi yang bahannya sederhana banget: tepung sagu, kelapa parut kasar, dipanggang di cetakan besi, terus disiram gula merah kental. Sesederhana itu. Tapi justru itu masalahnya — margin untungnya tipis, prosesnya lama, dan butuh cetakan khusus yang nggak semua orang punya.

Penjual kue rangi langganan di dekat rumah tutup dua tahun lalu. Anaknya nggak mau lanjutin. Aku ngerti sih, siapa juga yang mau berdiri di depan bara panas dari jam tiga pagi buat untung sekian ribu per hari. Tapi tetap aja, sekarang kalau kepingin kue rangi, aku harus nyetir empat puluh menit ke pasar sebelah.

Trio Cenil, Gethuk, dan Tiwul yang Nasibnya Beda-Beda

Menariknya, nggak semua jajanan tradisional bernasib sama. Gethuk malah lagi naik daun karena banyak yang jual versi kekinian — dikemas rapi, ada varian cokelat, dijual online. Cenil masih bertahan karena murah dan gampang dibuat. Tapi tiwul? Nyaris punah di kota besar.

Padahal tiwul itu makanan yang punya cerita panjang. Dulu makanan pengganti nasi waktu beras susah, sekarang malah jadi barang langka yang harganya bisa lebih mahal dari nasi. Ironis, tapi begitulah cara makanan bergerak mengikuti zaman.

Makanan yang bertahan bukan selalu yang paling enak, tapi yang paling gampang menyesuaikan diri sama cara orang belanja hari ini.

Bekal Sebelum Berangkat Berburu

Kalau kamu mau ikut-ikutan bangun pagi buat berburu jajanan pasar, ada beberapa hal yang aku pelajari dari trial and error selama ini. Bukan tips yang muluk-muluk, cuma hal praktis yang bikin perjalanan kamu nggak sia-sia.

  • Bawa uang tunai pecahan kecil. Banyak penjual jajanan pasar belum pakai QRIS, dan lima ribuan itu penyelamat. Percaya deh, nggak enak minta kembalian seratus ribu buat beli kue dua ribuan.
  • Bawa wadah sendiri. Kue basah yang ditumpuk di plastik bakal saling nempel dan bentuknya hancur sebelum sampai rumah. Kotak plastik dangkal jauh lebih aman.
  • Tanya jam bikinnya, bukan cuma harganya. Penjual yang bikin sendiri biasanya seneng ditanya, dan jawabannya bakal ngasih tahu kamu kapan harus datang lain kali.
  • Jangan langsung beli banyak di lapak pertama. Keliling dulu satu putaran. Sering banget lapak paling ramai bukan yang paling enak, cuma yang paling strategis posisinya.
  • Datang di hari kerja kalau bisa. Akhir pekan pasar lebih penuh, dan kue favorit sering habis sebelum jam enam.

Satu lagi yang agak personal: aku selalu nyisihin budget kecil buat beli dari penjual yang lapaknya sepi. Bukan karena kasihan — tapi karena beberapa penemuan terbaikku justru datang dari nenek-nenek yang jualan di pojokan dengan tampah kecil dan cuma tiga jenis kue. Nagasari buatan salah satu dari mereka sampai sekarang masih jadi standar nagasari terenak versi aku.

Harga yang Nggak Masuk Akal Murahnya

Ini bagian yang bikin aku agak nggak nyaman tiap kali belanja. Satu kue lapis yang bikinnya butuh delapan lapisan dan dikukus bertahap dijual dua ribu rupiah. Satu porsi bubur sumsum dengan kuah gula merah yang direbus pelan-pelan, lima ribu.

Bandingkan sama kopi susu kekinian yang harganya dua puluh ribu dan bikinnya dua menit. Aku nggak lagi mau nyalahin siapa-siapa, ini soal cara pasar menilai kerja. Tapi jujur aja, sejak sadar itu, aku berhenti nawar di pasar. Kalau ibu penjualnya bilang dua ribu, ya aku bayar dua ribu, kadang lebih, dan bilang kembaliannya buat beliau.

Beberapa penjual sekarang mulai adaptasi. Ada yang naikin harga jadi tiga sampai lima ribu dengan kemasan lebih rapi, ada yang buka pre-order lewat WhatsApp, ada juga yang titip di toko oleh-oleh. Menurutku itu langkah bagus dan pantas didukung. Jajanan pasar nggak harus selamanya murah supaya dianggap otentik.

Yang Sebenarnya Kita Beli

Tiap kali pulang dari pasar dengan kotak berisi putu, klepon, dan sepotong nagasari, aku sadar yang kubawa pulang bukan cuma sarapan. Ada memori masa kecil di situ — waktu ibu ngajak ke pasar dan aku dibolehin milih satu kue sendiri, biasanya yang warnanya paling mencolok.

Anak-anak sekarang tumbuh dengan pilihan jajan yang jauh lebih banyak, dan itu bukan hal buruk. Tapi kalau boleh nyaranin satu hal: sesekali ajak mereka ke pasar pagi-pagi. Biarkan mereka lihat kue putu dibuat langsung dari bambu, cium bau pandan dan gula merah, dan pilih sendiri jajanan yang mau dibawa pulang.

Karena rasa itu cuma bertahan selama ada yang masih mau membelinya. Dan jujur aja, bangun jam empat pagi demi lima potong kue hangat itu jauh lebih worth it daripada kedengarannya.

Tags: jajanan pasar kuliner tradisional pasar subuh kue basah kuliner indonesia

Baca Juga: Digital Corner Beac